Reformasi Ganja Indonesia Dan Dunia: Penyakit
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2015

National Cancer Institute – Finally Admits THC Causes 45% Remission in Bladder, Breast, and Liver Cancer


National Cancer Institute – Finally Admits THC Causes 45% Remission in Bladder, Breast, and Liver Cancer

The National Cancer Institute recently released its report on medical marijuana. The overview of their conclusion is, THC (the active ingredient in marijuana) caused a 45 percent reduction in bladder cancer, remission in breast and liver cancer and more.

The National Cancer Institute recently released its report on medical marijuana. The overview of their conclusion is, THC (the active ingredient in marijuana) caused a 45 percent reduction in bladder cancer, remission in breast and liver cancer and more.

They have determined that there is no lethal dose of marijuana. And addictive potential is considerably lower than any other medicine available.

Among their findings, they have found that cannabis is not associated with adverse pulmonary function and does not cause lung cancer or any aerodigestive tract cancers. Cannabis does not cause other types of cancer either.

They found cannabis has great anti-tumoral activity. Through their testing they have determined that cannabis is more effective than conventional antiemetics (drugs that ease nausea). And inhaled marijuana was more effective in chemo-induced nausea than any other currently available treatment.

Some of their other findings are: Cannabis appetite increase at 75 percent compared to the most effective medicine that has a 49 percent increase; weight increase at 11 percent compared to the most effective current medicine that has a 3 percent increase.

In opiate resistant cancer pain, marijuana had significant pain intensity relief, substantial analgesic effects, antiemetic effects and appetite simulation.

They also proved THC to be more effective then codeine. Some 10 mg of THC was more effective then 60 mg of codeine. There was no increase of the THC dose needed in long-term pain management.

Inhaled THC was shown to be more effective in neuropathic pain than current medicine. It also showed improved sleep quality and sense of well being and less anxiety.

These are just some of the findings of the National Cancer Institute. (http://www.cancer.gov/about-cancer/treatment/cam/hp/cannabis-pdf)

The federal government has made it so no state can be prosecuted for implementing a medical marijuana program. That is why the 23 states (and our nation’s capital) with medical marijuana programs are still around.

From our friends @ Medical Marijuana 411

Baca Juga : 33 Jenis Efek Shabu-Shabu Yang Merugikan Tubuh Manusia-Sabu – sabu merupakan salah satu jenis narkotika yang mungkin lebih mudah untuk dinikmati oleh para pecandu narkoba. Sabu – sabu sendiri berbentuk seperti Kristal, yang mana cara mengkonsumsinya adalah dengan membakar Kristal tersebut yang
http://thenationalmarijuananews.com/

33 Jenis Efek Shabu-Shabu Yang Merugikan Tubuh Manusia

33 Jenis Efek Shabu-Shabu Yang Merugikan Tubuh Manusia

Sabu – sabu merupakan salah satu jenis narkotika yang mungkin lebih mudah untuk dinikmati oleh para pecandu narkoba. Sabu – sabu sendiri berbentuk seperti Kristal, yang mana cara mengkonsumsinya adalah dengan membakar Kristal tersebut yang dibungkus alumunium dalam sebuah pipa, lalu menghisap uap hasil pembakaran melalui sebuah alat yang dinamakan bong. Kegiatan ini lebih sering disebut dengan istilah ‘ nyabu ‘.

sabu sabuSabu – sabu sendiri dapat ‘ dinikmati ‘ beramai – ramai, maupun sendirian. Hal ini disebabkan karena bong yang digunakan untuk menghisap dapat memiliki beberapa lubang, sehingga bisa digunakan beramai – ramai, mirip seperti menghisap rokok shisha.

Sama seperti narkotika jenis lain, kegiatan nyabu ini memiliki banyak sekali efek yang dapat diperoleh. Tentunya efek yang sifatnya negative. Efek ini sama seperti efek narkotika lainnya. Efek – efek tersebut dapat dilihat dari 3 dimensi umum, yaitu dimensi psikologis dan neurologis, dimensi kesehatan, dan dimensi sosial. Berikut ini efek – efek yang muncul karena penggunaan sabu – sabu :

Efek Sabu Sabu Secara Psikologis dan Neurologis


Efek sabu sabu utamanya akan terlihat pada gejala – gejala psikologis yang muncul dari pecandu sabu – sabu. Biasanya gangguan ini akan muncul sesaat setelah pecandu menghisap sabu, atau bisa juga terjadi ketika pecandu ssedang sakau. Berikut ini gejala – gejala yang mungkin timbul :

Gelisah dan tidak bisa tenang. Sabu – sabu memberikan efek energy yang berlebihan pada pecandunya. Energy yang berlebihan ini kemudian akan berimbas pada kondisi tubuhnya yang mudah merasa gelisah dan tidak bisa diam.
Gangguan Kecemasan Gangguan kecemasan merupakan gejala ‘ standar ‘ yang muncul karena penggunaan sabu – sabu. Hal ini juga merupakan faktor lain yang membuat pecandunya merasa gelisah dan tidak mau diam dan tenang.
Depresi. Depresi dapat terjadi ketika pecandu narkoba mengalami sakau dan membutuhkan sabu – sabu. Pada saat ini, efek sabu – sabu seperti meledaknya energy dan rasa seperti terbang seolah tidak ada beban hidup pun mulai menghilang. Hal ini membuat pecandu akan terus mencari cara untuk mendapatkan sabu – sabu.
Memiliki semangat yang tinggi. Merupakan efek langsung yang dapat dirasakan pecandu ketika melakukan kegiatan ‘ nyabu ‘. Hal ini merupakan pengaruh dari amphetamine yang terdapat pada sabu – sabu, sehingga energy akan meledak – ledak, dan memiliki semangat yang tinggi. Seolah – olah energy yang dimiliki tidak akan pernah habis dan ada terus.
Paranoid. Paranoid merupakan kondisi dimana pecandu sabu – sabu merasa seperti dikejar – kejar dan merasa hidupnya terancam. Singkatnya, paranoid adalah ketakutan yang berlebihan akan suatu hal yang akan terjadi. Hal ini menjadi salah satu efek dari sabu – sabu, sehingga beberapa pecandu sering mengurung diri, karena takut akan bahaya yang mengancam.
Delirium. Delirium merupakan perubahan kesadaran yang terjadi sebagai efek dari kegiatan ‘ nyabu ‘. Pecandu akan merasa tidak sadar akan hal – hal apa saja yang dia lakukan, serta secara tidak sdar pula dapat melakukan tindakan kriminalitas.
Agresif. Dengan energy yang bertambah dan meledak – ledak, disertai dengan kondisi tubuh yang sensitive dan mudah tersinggung, maka pecandu sabu – sabu akan memiliki kecenderungan untuk bertindak lebih agresif.
Sensitif dan Mudah Tersinggung. Salah satu efek dari kegiatan nyabu adalah pecandunya menjadi sosok yang sangat mudah tersinggung, dan sensitive. Ibaratnya disenggol sedikit pun, mungkin mereka bisa membunuh orang.
Halusinasi. Merupakan ‘paket’ yang diperoleh dari pecandu sabu – sabu. Halusinasi merupakan suatu keadaan dimana pecandu melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Efek Sabu Sabu Bagi Kesehatan

Sabu – sabu memiliki efek yang sangat buruk bagi kesehatan penggunanya. Efek – efek kesehatan tersebut antara lain :

Pupil membesar. Kondisi pupil yang membesar disebabkan oleh aliran darah yang memiliki tekanan tinggi, sehingga akan berdampak pada pembesaran pupil, sama seperti ketika mengonsumsi kafein.
Naiknya tekanan darah. dengan melakukan ritual ‘ nyabu ‘ maka akan menaikan tekanan darah pada pecandunya. Naiknya tekanan darah secara tidak normal ini dapat menyebabkan hal – hal yang berbahaya.
Bertambahnya detak jantung. Bertambahnya detak jantung merupakan efek domino dari naiknya tekanan darah. Aiknya tekanan darah akan memaksa jantung untuk bekerja lebih keras lagi, sehingga akan memompa lebih cepat.
Sesak nafas. Merupakan gejala yang ditimbulkan karena gangguan terhadap paru – paru pecandu. Selain sesak nafas, gejala lain yang muncul antara lain :
Batuk – batuk
Infeksi pada paru – paru
Kanker paru – paru
Sulit berpikir dan berkonsentrasi. Penggunaan sabu – sabu akan merusak saraf dan proses kognisi seseorang. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya fungsi berpikir dan penalaran pecandu sabu – sabu.
Mual dan muntah. Mual – mual dan muntah merupakan efek yang dapat dirasakan sesaat setelah melakukan kegiatan ‘ nyabu ‘
Sanggup menahan lapar. Para pecandu sabu – sabu biasanya mampu menahan lapar dalam waktu yang sangat lama, bisa hampir dalam waktu seminggu. Hal ini akan membuat tubuh mereka kekurangan nutrisi dan akan terlihat sangat kurus sekali, seperti anoreksia.
Menurunnya imunitas tubuh. dengan asupan nutrisi dan gizi yang sangat cukup, maka dapat dipastikan imunitas tubuh pun akan berkurang. Hal ini akan membuat para pecandu terinfeksi berbagai maacam penyakit dan virus, dan akan mengalami komplikasi penyakit.
Stroke. Stroke merupakan gejala yang muncul karena tingginya tekanan darah pada pecandu sabu – sabu. Hal ini akan sangat berbahaya, karena stroke dapat menyebabkan kelumpuhan, hingga menyebabkan kematian.
Kematian. Liang kubur adalah salah satu tempat yang sangat menanti anda, kapan pun anda bisa mati karena konsumsi dan menghisap sabu sabu.

Efek Sosial Masyarakat

Sama seperti efek dari narkotika jenis lain, sabu – sabu juga memiliki efek negative terhadap lingkungan sosial dari pecandu sabu. Berikut ini efek – efek sosial yang diperoleh :

Dibuang dari lingkungan sosial

Kemampuan sosial yang berkurang
Naiknya angka kriminalitas seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, dan jenis kejahatan lainnya.
Naiknya angka kekerasan pada pecandu
Penjara. Satu-satu nya tempat akhir para pecandu sabu-sabu adalah penjara.
Nah bagi anda yang mengkonsumsi sabu sabu, sebaiknya mulai berpikir bagaimana menghilangkan kebiasaan buruk ini. Hal ini tidak hanya mengancam diri anda, melainkan juga berdampak pada lingkungan masyarakat.

Efek Pada Keluarga


Efek sabu sabu yang paling mengkhawatirkan adalah pada keluarga yang anda kasihi. Pasti mereka akan ikut mengalami penderitaan yang tiada taranya karena ulah anda. Berikut adalah beberapa kategori yang dapat merugikan keluarga anda.

Bagi Orang Tua anda


Hancur hatinya. Tidak ada satupun orang tua yang ingin melihat anaknya menjadi pecandu sabu sabu. Hal ini sangat menghancurkan hatinya.
Anda tidak ada artinya lagi. Walau tetap mendapat kasih sayang, sebetulnya orang tua anda akan mengucilkan anda secara tidak langsung. Mereka tidak ingin masa depan keluarga berada di tangan anda yang seorang pecandu.
Anda pelaku kejahatan. Orang tua akan mengecap anda sebagai pelaku kejahatan wahid yang wajib di waspadai. Mereka sadar pecandu dapat melakukan apa saja.
Bagi Istri/Suami (yang sudah menikah)

Kemungkinan besar cerai. Tidak ada peluang hidup bersama seorang pecandu, jelas itu adalah yang ada dibenak pasangan anda.
Tidak harmonis. Siapa yang tahan hidup dengan seorang pecandu yang setiap saat berpotensi di penjara, mati, dan masa depan suram.
Bagi Anak

Masa depannya suram. Jika anak mengetahui maka masa depan anak akan ikut suram jika mengikuti jejak anda.
Potensi di bully. Anda tidak sadar bahwa di lingkungan masyarakat anak anda akan di bully dan akan membuat dirinya sulit berkembang dan cenderung berbahaya bagi masa depannya.
Ikut jejak anda. Anda ingin anak anda mengikut jejak anda ? nah kemungkinan ini sangat besar karena ia telah mengenal dunia ini.
Anda akan dicampakkan. Jangan harap anda akan mendapat tempat dihati anak anda, kemungkinan besar anda akan dicampakkan.
Efek sabu sabu sudah tidak terhitung lagi bahayanya, jadi sudah wajib anda tinggalkan dan cegah sedini mungkin.

Baca Juga : Daftar Narkotika Golongan 3-1. Asetildihidrokodeina
2. Dekstropropoksifena : α-(+)-4-dimetilamino-1,2-difenil-3-metil-2-butanol propionat
3. Dihidrokodeina
4. Etilmorfina : 3-etil morfina
5. Kodeina : 3-metil morfina
http://halosehat.com/

Akhirnya Amerika Mengakui Manfaat Ganja Untuk Mengobati Kanker


Akhirnya Amerika Mengakui Manfaat Ganja Untuk Mengobati Kanker

Pemerintah AS telah menambahkan halaman untuk penggunaan ganja dan cannabinoids dalam situs resmi kanker mereka.
Institut Kanker Nasional, bagian dari Departemen Kesahatan Amerika Serikat, sekarang menyarankan bahwa ‘cannabinoids mungkin berguna dalam mengobati efek samping dari kanker dan pengobatan kanker’ dengan cara merokok ganja dan makan produk makanan berbahan ganja, minum teh herbal atau bahkan penyemprotan cannabinoids dibawah lidah.
Situs tersebut juga menyebutkan daftar penggunaan ganja untuk penyakit lainnya, termasuk: aktifitas anti-inflamasi, menghalangi pertumbuhan sel, mencegah pertumbuhan pembuluh darah yang memasok tumor, aktivitas antivirus dan menghilangkan kejang otot yang disebabkan oleh multiple sclerosis
Halaman informasi tersebut juga menjelaskan bagaimana sel-sel kanker di tikus tewas ketika terkena ganja.
Beberapa studi ilmiah telah menyarankan hal ini di masa lalu, dan pada bulan April tahun ini NIDA [National Institute of Drug Abuse] merevisi publikasi mereka dan menyarankan bahwa ganja bisa mengecilkan tumor otak dengan membunuh sel-sel kanker.
Sekarang sudah ada dua obat berbasis ganja yang sudah disetujui oleh FDA untuk pasien kanker yang tersedia di Amerika Serikat [Nabiximols] dan Inggris [Sativex]. Bahkan, Sativex pun sudah bisa digunakan oleh pasien kanker di Inggris, Spanyol, Itali, dan Jerman
Mengetahui Amerika sudah mengakui hal tersebut, semoga Indonesia juga akan mengakui bahwa ganja benar-benar berguna untuk pengobatan kanker.

Baca Juga : Tanaman Ganja Memiliki Senyawa Untuk Mengobati Kanker-Tanaman ganja merupakan barang terlarang di banyak negara. Namun studi yang dikerjakan para peneliti dari University of East Anglia (UEA) menunjukkan tanaman yang bisa menimbulkan efek memabukkan itu berguna dalam dunia medis. Hasil riset menyebutkan senyawa aktif dalam ganja bisa mengurangi pertumbuhan tumor pada pasien kanker.
http://www.legalisasiganja.com/

Rabu, 23 September 2015

Tanaman Ganja Memiliki Senyawa Untuk Mengobati Kanker


Tanaman Ganja Memiliki Senyawa Untuk Mengobati Kanker

Tanaman ganja merupakan barang terlarang di banyak negara. Namun studi yang dikerjakan para peneliti dari University of East Anglia (UEA) menunjukkan tanaman yang bisa menimbulkan efek memabukkan itu berguna dalam dunia medis. Hasil riset menyebutkan senyawa aktif dalam ganja bisa mengurangi pertumbuhan tumor pada pasien kanker.

Riset ini menimbulkan harapan baru dalam pengembangan obat antikanker. Riset yang dikerjakan bersama ilmuwan dari Complutense University of Madrid, Spanyol, menggunakan sampel kanker payudara manusia yang diinduksi pada tikus.

Peneliti memberikan dosis senyawa Tetrahydrocannabinol (THC) yang diambil dari daun ganja. Hasilnya, peneliti mendapatkan ada dua sel reseptor yang bereaksi dengan efek antitumor dari obat tersebut.

Peneliti dari UEA, Dr Peter McCormick, menyebutkan THC yang merupakan komponen aktif dalam mariyuana memiliki properti antikanker. Senyawa ini bekerja melalui sel reseptor khusus yang disebut reseptor cannabinoid.

"Namun belum dipastikan reseptor mana yang berhubungan dengan efek antitumor dari THC," kata McCormick.

McCormick mengatakan peneliti belum memastikan perbedaan efek THC pada pertumbuhan tumor jika diberikan dalam dosis rendah dan tinggi.

"Ada ketertarikan yang tinggi untuk memahami mekanisme molekuler bagaimana mariyuana, terutama THC, bisa mempengaruhi patologi kanker," ungkapnya.

McCormick juga menambahkan, studi obat dari senyawa ganja ini masih dalam tahap awal dan perlu dikembangkan. Dia menekankan para penderita kanker untuk tidak tergoda mengobati penyakit itu secara mandiri. Menurutnya, riset yang dijalankan menggunakan senyawa kimia yang diisolasi dengan konsentrasi tertentu.

"Penderita kanker jangan melakukan pengobatan sendiri dengan ganja dan saya berharap riset ini bisa memicu munculnya obat setara senyawa sintetis yang aman di masa depan," ujar McCormick. (AH)

Baca Juga : Riset Membuktikan, Ganja Bantu Tanggulangi Tumor Otak
http://medialingkungan.com/index.php/component/k2/item/558-riset-tanaman-ganja-memiliki-senyawa-untuk-obat-kanker

Riset Membuktikan, Ganja Bantu Tanggulangi Tumor Otak


Riset Membuktikan, Ganja Bantu Tanggulangi Tumor Otak

Baru-baru ini tanaman ganja telah dibuktikan memiliki banyak manfaat dalam kesehatan. Selain menghancurkan beberapa sel kanker, tanaman yang punya nama latin Cannabis sativa ini ternyata efektif melawan tumor otak.
Sebuah studi terbaru yang dilakukan pada tikus menunjukkan, bila dikombinasikan dengan terapi radiasi, ganja secara efektif dapat mengecilkan salah satu jenis tumor yang paling agresif, yaitu tumor otak.
Dari makalah yang diterbitkan di jurnal Molecular Cancer Therapies, tim peneliti dari St George University of London memaparkan “pengurangan dramatis” yang mereka amati pada glioma massa, bentuk mematikan dari kanker otak ketika diobati dengan mengombinasi radiasi dan dua senyawa ganja yang dikenal sebagai cannabinoid.
Dalam banyak kasus, terbukti bahwa tumor menyusut sampai sepersepuluh ukuran sebelumnya.
“Cannabinoids dapat berperan dalam mengobati salah satu kanker yang paling agresif pada orang dewasa. Hasilnya menjanjikan,” kata Dr. Wai Liu yang merupakan salah satu peneliti tersebut.
Penelitian mengenai manfaat ganja dalam pengobatan kanker memang bukan hal baru. Namun, Liu dan timnya adalah yang pertama meneliti efek kombinasi ganja dengan terapi radiasi. “Hasil akhirnya lebih kuat dalam mengecilkan tumor,” katanya.
Dalam penelitiannya, Liu mengamati tikus yang sebelumnya sudah diinfeksi glioma (tumor otak) lalu diobati dengan dua macam terapi, yakni radiasi saja atau kombinasi antara radiasi dan senyawa ganja.
Senyawa yang dipakai adalah THC, senyawa psikoaktif yang terkait dengan sensasi “high”, dan CBD, yang tidak menghasilkan efek samping psikoaktif.
Mereka menemukan bahwa pengobatan tumor yang terbaik adalah memakai dosis rendah, baik THC dan CBD bila digunakan secara bersama, membuat tumor lebih mudah merespon radiasi.
Penggunaan dua senyawa itu dalam dosis rendah ternyata juga menghasilkan efek yang sama jika memakai salah satu komponen dalam dosis tinggi. Ini penting karena dengan demikian efek samping yang dialami pasien juga lebih sedikit.
THC dan CBD merupakan dua dari puluhan senyawa kimia yang ditemukan dalam tanaman ganja. Tim ilmuwan dari Inggris tahun lalu menemukan bahwa kombinasi dari enam cannabinoids murni yang berbeda dapat membunuh sel-sel kanker leukemia.
Sementara itu, THC saja telah terbukti mengurangi ukuran tumor kanker dan menghentikan penyebaran HIV. CBD juga memiliki efek positif pada anak-anak dan orang dewasa yang menderita gangguan kejang yang berat.
Walau begitu, di banyak negara ganja masih tergolong dalam obat-obatan terlarang. Walau ada beberapa negara yang melegalkan ganja untuk tujuan pengobatan, tapi para ahli berpendapat kurangnya dukungan pemerintah terhadap pemakaian ganja di bidang kesehatan membuat manfaat tanaman ini kurang dipahami secara baik.

Baca Juga : Sejarah Ganja Illegal
Peneliti: Ganja Obat Mujarab Sejak Ribuan Tahun

http://www.reportase5.com/riset-membuktikan-ganja-bantu-tanggulangi-tumor-otak/

Sejarah Ganja Illegal

Sejarah Ganja Illegal
Peneliti: Ganja Obat Mujarab Sejak Ribuan Tahun


“Ganja, 12.000 tahun menyuburkan peradaban manusia”.

Petikan kalimat yang selalu terngiang mengingat sandangan status hukum ganja saat ini, berarti sudah 10.000 tahun kiprah ganja bersama manusia sebelum peradaban modern mulai mencatat waktu masehi, dan kini sudah mulai dilegalkan di beberapa negara-negara bahkan di beberapa negara bagian Amerika, termasuk Washington dan Colorado.

Otak manusia sering disebut-sebut sebagai daerah terakhir yang paling sulit untuk dijelajahi di seluruh alam semesta. Ketika hadiah nobel diberikan kepada Camillo Golgi dan Ramon Cajal pada tahun 1906, umat manusia masih jauh dari memahami bagaimana cara kerja sistem syaraf.

Nobel yang diberikan pun kontroversial karena kedua ilmuwan tadi masih mengemukan pendapat yang masing-masingnya berbeda tentang struktur syaraf manusia.

Kedatangan mikroskop elektron pada dekade 1950-an baru memberi titik terang dengan menguatkan pendapat Cajal dan rekannya Sherrington bahwa sel syaraf adalah satuan kerja terkecil yang menyusun sistem syaraf manusia.

Ganja Miliki Molekul Misterius “Endocannabinoid”

Hingga tahun 1990-an awal, seluruh ahli syaraf di dunia masih berpikir bahwa sinyal pada otak manusia dewasa hanya bergerak dalam satu arah saja, dari sel syaraf pre-sinaptik ke sel syaraf post-sinaptic.
Namun penemuan di awal tahun 90-an oleh ilmuwan di Universitas Maryland di Amerika dan Universitas Rene Descartes di Paris mengisyaratkan adanya mekanisme baru dalam cara sel syaraf berkomunikasi dengan satu sama lain.

Caranya, yaitu dari sel syaraf pos-sinaps kembali ke sel syaraf pre-sinaps dengan menggunakan jasa molekul “pembawa pesan” yang bernama neurotransmitter, yaitu senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron.

Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi.

Jalur kedua dalam arah komunikasi ini diberi nama DSI (depolarization-induced suppression of inhibition) atau dikenal juga dengan istilah retrogade signalling. Selama ini komunikasi dua arah antara sel syaraf diketahui hanya terjadi saat sel saraf masih dalam taraf perkembangan.
Identitas molekul pembawa pesan ini menjadi misteri hingga akhirnya pada tahun 2001, ilmuwan dari Universitas California, San Fransisco dan ilmuwan dari Universitas Kanazawa, Jepang secara terpisah namun bersamaan menemukan bahwa molekul anandamide dan molekul 2-AG yang merupakan endocannabinoid sebagai molekul misterius ini.

Molekul endocannabinoid merupakan molekul pembawa pesan yang khusus menempel pada reseptor cannabinoid.

Reseptor cannabinoid sendiri merupakan salah satu reseptor jenis G-protein terbanyak di otak, reseptor ini ditemukan dengan kepadatan tinggi di bagian-bagian seperti korteks cerebral, hipokampus, hipotalamus, otak kecil (cerebellum), basal ganglia, batang otak, tulang belakang dan amygdala.

Istilah “cannabinoid” sendiri berasal dari tanaman ganja atau “cannabis” yang menghasilkan berbagai molekul aktif (sampai saat ini baru diketahui 60 jenis molekul) yang disebut fitocannabinoid atau cannabinoid dari tanaman.

Tanaman ganja adalah satu-satunya spesies tanaman yang diketahui sampai saat ini menghasilkan molekul cannabinoid, keberadaan reseptor cannabinoid yang melimpah di berbagai bagian otak manusia membuat efek ganja begitu kompleks pada kesadaran manusia.

Tanaman Obat Legendaris di Dunia

Sebelum Raphael Mechoulam yang merupakan ilmuwan dari Israel menemukan bahwa otak manusia juga menghasilkan molekul yang sama persis fungsinya dengan molekul cannabinoid dari tanaman ganja, ganja telah menjadi tanaman obat-obatan yang paling legendaris di dunia.
Ganja pernah disebut sebagai tanaman obat dengan kegunaan terbanyak di dunia (Christian Rätsch, 2001).

Catatan mengenai ganja dalam sejarah muncul pertama kali dalam kitab pengobatan tertua di dunia, pen’ tsao ching yang berasal dari Cina.

Kitab ini merupakan kumpulan dari catatan-catatan yang dibuat oleh kaisar Shen Nung yang hidup pada masa 2900 SM.

Ganja juga disebut sebagai satu dari lima tanaman suci dalam Atharva Veda, salah satu kitab suci umat Hindu (Aldrich, 1977), sementara di Persia ganja disebut dalam kitab Zend-Avesta pada urutan pertama dari 10000 (sepuluh ribu) jenis tanaman berkhasiat obat.

Sejak Dulu Ganja Adalah Tanaman Obat

Sejarah yang panjang dari khasiat tanaman ganja bukan hanya isapan jempol dari masa lampau. Ilmuwan di seluruh dunia saat ini mulai menemukan betapa pentingnya peranan reseptor cannabinoid dan molekul endocannabinoid dalam tubuh manusia.

• Cannabinoid berperan pada sistem reproduksi (Park, McPartland & Glass, 2003)

• Pemulihan stress dan menjaga keseimbangan dalam tubuh (Di Marzo V, Melck D, Bisogno T, De Petrocellis L, 1998)

• Perlindungan sel syaraf (Panikashvili D, Mechoulam R, Beni SM, Alexandrovich A, Shohami E, 2005)

• Reaksi terhadap stimulus rasa sakit (Cravatt BF, Lichtman AH, 2004)

• Regulasi aktifitas motorik (Van der Stelt M, Di Marzo V, 2003)

• Mengontrol fase-fase tertentu pada pemrosesan memori (Wotjak CT, 2005)

• Berperan dalam modulasi respon kekebalan dan imunitas tubuh (Klein TW, Newton C, Larsen K, Lu L, Perkins I, Nong L, Friedman H, 2003; Massa F, Marsicano G, Hermann H, Cannich A, Monory K, Cravatt BF, Ferri GL, Sibaev A, Storr M, Lutz B, 2004)

• Bahkan berpengaruh juga dalam sistem kardiovaskular dan pernafasan dengan mengatur detak jantung, tekanan darah dan fungsi saluran pernafasan (Mendizabal VE, Adler-Graschinsky E, 2003)
Sifat Melupakan

Dalam mekanisme pemrosesan informasi dalam otak manusia, cannabinoid dan endocannabinoid diketahui memainkan peranan yang sangat penting.

Ketika ditemukan bahwa jalur baru pengiriman sinyal dalam otak ini juga terjadi pada otak manusia dewasa, implikasinya memicu banyak penemuan baru di dunia neurosains.
Endocannabinoid kemudian diketahui berperan dalam proses long-term potentiation atau penguatan sinaps antar sel syaraf, sebuah proses yang penting dalam menyimpan informasi baru yang diterima oleh otak.

Pada tahun 2003, Giovanni Marsicano dari Institut Psikiatri Max Planck di Munich menemukan satu lagi peran penting molekul endocannabinoid dan reseptornya dalam salah satu proses kognitif paling penting pada otak mamalia, yaitu proses melupakan.

Giovanni menemukan bahwa tikus-tikus percobaannya yang kekurangan reseptor cannabinoid (CB1) lebih sulit melupakan rasa takut dan sakit yang muncul dari stimulus kejutan listrik yang dipasangkan dengan stimulus suara dibandingkan dengan tikus-tikus dengan jumlah reseptor CB1 yang normal.

Walaupun stimulus suara sudah tidak lagi dipasangkan dengan stimulus listrik, tikus-tikus yang kekurangan reseptor CB1 tetap menampilkan rasa takut dan rasa sakit walau hanya diberi stimulus suara. Melupakan ternyata merupakan proses kognitif yang sangat penting pada otak manusia.

Abnormalitas jumlah reseptor CB1 atau produksi molekul endocannabinoid telah menjadi hipotesis banyak ilmuwan sebagai penyebab atau faktor penting yang berpengaruh dalam kondisi-kondisi seperti stress paska trauma, fobia dan rasa sakit yang kronis.
Lebih penting lagi, melupakan, juga merupakan proses yang vital ketika seseorang ingin mengingat sesuatu karena otak manusia sebenarnya menyerap semua informasi dan stimulus yang diterima lewat indera.

Tanpa mekanisme melupakan, atau gangguan pada prosesnya, manusia akan kesulitan mengingat sesuatu karena tidak tahu mana yang harus diingat dari begitu banyaknya informasi dan stimulus yang masuk ke otak.

Demikianlah sedikit cerita mengenai molekul pembawa pesan bernama endocannabinoid yang ternyata juga dihasilkan oleh hanya satu spesies tanaman di muka bumi, yaitu ganja.

Tanaman yang sepanjang sejarah telah menjadi zat terlarang yang paling banyak dikonsumsi oleh manusia di seluruh dunia sampai saat ini dimana jumlah pemakainya justru merupakan terbanyak sepanjang zaman. (Global Cannabis Regulation Model, 2004).

Informasi Penulis: Kong Ali adalah seorang pengagum ajaran marxisme-leninisme yang percaya bahwa tanaman ganja bisa menjadi salah satu jalan revolusi industri dan budaya. (ruangpsikologi/wikipedia/neuropsikologi ganja by: Kong Ali)
Memacu Kreatifitas
Selain diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu (termasuk kanker), banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya (terutama pada para seniman dan musisi).

Berdasarkan penelitian terakhir, hal ini (lonjakan kreativitas), juga dipengaruhi oleh jenis ganja yang digunakan. Salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreativitas adalah hasil silangan modern “Cannabis indica” yang berasal dari India dengan “Cannabis sativa” dari Barat. Jenis ganja silangan inilah yang tumbuh di Indonesia.

Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu. Segolongan tertentu ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas, sementara ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berfikir kreatif (bukan aktif secara fisik seperti efek yang dihasilkan methamphetamine).

Tidak Menyebabkan Kematian

Ganja, hingga detik ini, tidak pernah terbukti sebagai penyebab kematian maupun kecanduan. Bahkan, di masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa, di mana hampir semua unsur yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Hal ini sangat bertolak belakang dan berbeda dengan efek yang dihasilkan oleh obat-obatan terlarang dan alkohol.
Karena itu semua yang menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan hingga tersiksa secara fisik, dan bahkan berbuat kekerasan maupun penipuan (aksi kriminal) untuk mendapatkan obat-obatan kimia buatan manusia itu.

Dalam penelitian ilmiah dengan metode systematic review yang membandingkan efektifitas ganja sebagai obat antiemetic didapatkan hasil ganja memang efektif sebagai obat antiemetic dibanding prochlorperazine, metoclopramide, chlorpromazine, thiethyl perazine, haloperidol, domperidone, atau alizapride.

Tetapi pengunaannya sangat dibatasi dosisnya, karena sejumlah pasien mengalami gejala efek psikotropika dari ganja yang sangat berbahaya seperti pusing, depresi, halusinasi, paranoia, dan juga arterial hypotension

Pemanfaatan Ganja Menjadi Illegal (Dilarang)

Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak.

Namun demikian, karena ganja juga dikenal sebagai sumber narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, orang lebih banyak menanam untuk hal ini dan di banyak tempat disalahgunakan.

Di sejumlah negara penanaman ganja sepenuhnya dilarang. Di beberapa negara lain, penanaman ganja diperbolehkan untuk kepentingan pemanfaatan seratnya. Syaratnya adalah varietas yang ditanam harus mengandung bahan narkotika yang sangat rendah atau tidak ada sama sekali.
Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan.

Bagi penggunanya, daun ganja kering dibakar dan dihisap seperti rokok, dan bisa juga dihisap dengan alat khusus bertabung yang disebut bong.

Juga gembar-gembor pemerintah yang seolah memiliki dasar kuat menerapkan dogma bahwa pelarangan terkait bertujuan untuk melindungi masyarakat dari “bahaya” yang tidak pernah terbukti secara gamblang.

Tak ayal gembar-gembor banyak pihak anti-narkoba ini berhasil menyembunyikan fakta-fakta ganja di balik kemasan informasi yang disebarkan oleh konspirasi ber-agenda.

Sudah saatnya semua ketahui, bahwa fakta sesungguhnya ternyata memiliki gambaran cerita yang bertolak belakang. Fakta-fakta terkait agenda konspirasi dan unsur-unsur rasisme, ketakutan, perlindungan profit raksasa industri, “Yellow journalism, keserakahan serta karir perseorangan (pada masanya) dibalik pelarangan akan (sekali lagi) penulis ulas dalam beberapa paragraf berikut:

Semenjak manusia mulai mencatatkan segala sesuatu sebagai sejarah, ganja tidak hanya legal dalam status hukum, tetapi juga tingkat pemanfaatan yang sangat besar dalam hampir segala aspek menunjukkan betapa tumbuhan ini pernah sangat penting fungsinya dalam kehidupan.

Ganja sebagai tumbuhan multi-fungsi juga bukanlah temuan baru mengingat ribuan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dijuluki “anak kemaren sore”.

Faktanya, status ilegal ganjalah yang lebih pantas mendapat julukan “bau kencur”, mengingat presentasi kurun waktu pelarangan tidak sampai 1% dari total masa pemanfaatan yang sudah ribuan tahun.

Ganja secara utuh telah dimanfaatkan sejak lama untuk berbagai kebutuhan seperti kain sebagai sandang, tepung dan minyak untuk pangan, temali dan lainnya untuk industri, sampai pemanfaatan bunga untuk medis hingga kebutuhan spiritual keagamaan.
Sejarah juga menyatakan bahwa ganja adalah tumbuhan tertua yang manusia gunakan untuk kebutuhan sandang (setelah kulit hewan).

Fakta-fakta seperti ini dan informasi belakangan sedikit memberikan kebingungan publik setelah pada awal abad ke-16 Amerika memperkenalkan tumbuhan ini beserta himbauan untuk memanfaatkannya secara massal, dan kemudian menuai kontroversi perihal penggunaannya untuk rekreasional di awal abad 19.

Undang-undang awal yang mengatur hal-hal terkait ganja tercatat di Amerika pada tahun 1619.

Undang-undang tersebut terutama mengatur dan menghimbau para petaninya untuk serentak menanam ganja. Hukum terkait terus berkembang dalam periode 200 tahun setelah itu dan terkesan lebih mengharuskan penanaman besar-besaran.

Seperti tercatat pada tahun 1763-1767 di Virginia, siapapun bisa terkena hukuman pidana dan dipenjarakan untuk tidak menanam ganja. Ya, pernah sepenting itu tumbuhan ganja untuk sebuah peradaban, sampai pada akhirnya diawal abad 19 semua tentang ganja seolah terdiskriminasi.

Secara lebih terperinci, semua berawal ketika terbukanya celah di bidang pertanian, khususnya dibagian barat Amerika.

Ketika itu tercatat awal tahun 1900-an, ketika pecahnya revolusi Meksiko dan banyak masuknya warga Meksiko ke Amerika, yang secara tidak langsung menimbulkan perang dingin antara petani kecil dan penguasa ladang-ladang besar (yang tak lagi memakai jasa petani lokal dan mengganti mereka dengan buruh Meksiko berupah jauh lebih rendah).
Memanfaatkan kebiasaan buruh-buruh Meksiko dalam mengkonsumsi ganja sebagai bahan rekreasi, pihak-pihak berkepentingan pertama kali mengkambing-hitamkan ganja sebagai sesuatu yang buruk.

Hal ini kontan diikuti oleh pelarangan di beberapa kota di Amerika, seperti di Wyoming (1915), Texas (1919), Iowa, Nevada, Oregon, Washington, and Arkansas (1923), and Nebraska (1927).

Sebesar itu juga ternyata ketakutan para konspirator terhadap ganja sampai sering terdengar di tahun 1927 kata-kata seperti yang terucap dari senator Texas

“All Mexicans are crazy, and this stuff (ganja) is what makes them crazy”.

Di bagian timur Amerika, diskriminasi terhadap ganja pun kian terasa dengan nuansa yang berbeda. Masalah seolah dibuat-buat dan ditujukan kepada kombinasi “Latin Americans” dengan “black jazz musicians”.

Ganja dan musik jazz datang dari New Orleans ke Chicago, kemudian merambah ke Harlem dimana ganja menjadi bagian tak terpisahkan dengan hits-hits kulit hitam (Louis Armstrong “Muggles”, “That Funny Reefer Man” Cab calloways, Fats Waller Viper’s Drag).

Sekali lagi diskriminasi terhadap ganja sangat pekat tercium bersamaan dengan rasisme terhadap kulit hitam.

Seperti tertulis dalam sebuah koran tahun 1934:

“Marijuana influences Negroes to look at white people in the eye, step on white men’s shadows and look at a white woman twice”.
Begitulah kurang lebih deretan peristiwa yang secara tidak langsung menjadi dasar pelarangan ganja di Amerika.

Setelah sebelumnya, tahun 1914 pemerintah federal Amerika meloloskan “The Harrison Act” undang-undang/tax untuk opium dan kokain.

Dalam Harrison Act ini, segala bentuk penggunaan opium dan kokain dikenakan tax untuk legalitas, sementara para pelanggar tax mendapatkan hukuman denda atau penjara.

Hingga akhirnya terlahir The Federal Bureau of Narcotics pada tahun 1930 dibawah kuasa Harry J. Anslinger. Disinilah, perang terhadap ganja resmi diawali.
Harry J. Anslinger, sosok picik penuh ambisi yang meng-otaki berdirinya divisi baru di bawah Department of Treasury, dan memanfaatkan badan federal ini sebagai peluang karir pribadi.

Sebuah badan pemerintah dengan kuasa penuh menangani segala bentuk narkotika, dan berwewenang menyuguhkan solusi atas segala masalah yang bisa ditetapkan seenaknya sendiri.

Tak membutuhkan waktu lama, Anslinger pun menyadari bahwa opium dan kokain saja tidaklah cukup dijadikan ajang mempercepat perkembangan badan yang dikepalainya, sehingga ganja merupakan bulan-bulanan tepat bagi Anslinger.

line up

“Segala upaya Harry J. Anslinger dicurahkan untuk secepat mungkin menjadikan ganja sebagai sesuatu yang lebih buruk dari opium dan memberikan gelar ilegal atasnya.”

line down

Tak lepas dari perhatiannya, fenomena rasisme dan kekerasan serta merta disangkut-pautkan dengan tumbuhan ini untuk mendapatkan perhatian bangsanya atas rekayasa-rekayasa yang dbuatnya sendiri.

Berikut beberapa rekayasa dalam kata karya Anslinger yang mencerminkan sangat besarnya kebencian dia dan sekutu-sekutunya (di artikel sebelumnya pernah dibahas hubungan dekat Anslinger dengan Hearst, Dupont, dan Melon) terhadap ganja:

“… the primary reason to outlaw marijuana is its effect on the degenerate races.”
“Marijuana is an addictive drug which produces in its users insanity, criminality, and death.”
“Reefer makes darkies think they’re as good as white man.”
“Marijuana leads to pacifism and communist brainwashing.”
“You smoke a joint and you’re likely to kill your brother.”
“Marijuana is the most violence-causing drug in the history of mankind.”
Ya, sebesar kebohongan-kebohongan itu pula kebencian Anslinger terhadap ganja yang tak henti-hentinya dia gembar-gemborkan.

Kampanye mengkambinghitamkan ganja oleh Anslinger ini serta merta mendapatkan segala dukungan yang diperllukan dari pihak-pihak yang tak kalah kuat dari FBN. Seperti salah satu bantuan yang datang dari William Randolf Hearst, penguasa media cetak saat itu. Hearst memiliki segudang alasan untuk membanatu Anslinger dalam kampenye anti ganjanya.
Pertama, dia sangat membenci orang-orang Meksiko. Kedua, membuat berita berisi kebohongan terkait warga meksiko dan ganja “The devil” sebagai sumber malapetaka membuat koran-korannya laris, dan membuatnya tetap kaya raya.

Utamanya, dia telah sejak lama berinvestasi besaar-besaran dalam kayu hutan untuk industri kertas dan media cetaknya, dan tidak ingin melihat perkembangan industri kertas dari serat ganja sebagai kompetitornya. Berikut beberapa contoh kebohongan medianya:

Dikutip dari San Fransisco Examiner:

line up

“Marihuana makes fiends of boys in thirty days — Hashish goads users to bloodlust. By the tons it is coming into this country — the deadly, dreadful poison that racks and tears not only the body, but the very heart and soul of every human being who once becomes a slave to it in any of its cruel and devastating forms…. Marihuana is a short cut to the insane asylum. Smoke marihuana cigarettes for a month and what was once your brain will be nothing but a storehouse of horrid specters. Hasheesh makes a murderer who kills for the love of killing out of the mildest mannered man who ever laughed at the idea that any habit could ever get him….”

Dan satu lagi dari dari koran yang terbit secara nasional:

“Users of marijuana become STIMULATED as they inhale the drug and are LIKELY TO DO ANYTHING. Most crimes of violence in this section, especially in country districts are laid to users of that drug. Was it marijuana, the new Mexican drug, that nerved the murderous arm of Clara Phillips when she hammered out her victim’s life in Los Angeles?… THREE-FOURTHS OF THE CRIMES of violence in this country today are committed by DOPE SLAVES — that is a matter of cold record.”

line down

Berita-berita miring tersebut tercetak tanpa bukti dan sumber yang kuat, dan senantiasa tercetak di halaman utama dalam periode yang lama.

Seolah membenarkan pribahasa “The more the merrier“, Anslinger dan Hearst juga serta merta mendapatkan dukungan dari pihak raksasa lain, kali ini datang dari rajanya industri kimia Dupont. Selain juga dukungan dari perusahaan-perusahaan farmasi yang tak kalah berkuasa.
Dupont, pada saat itu baru saja mempatenkan nylon, dan kerakusan membuat mereka menutup segala kemungkinan ganja menjadi saingan. Sama halnya dengan industri-industri farmasi, mereka tidak mau juga pasarnya menanam obat-obatan sendiri dan berhenti membeli produk mereka.

Akhirnya, semua konspirasi di atas berujung kerucut kepada akar semua pelarangan ganja yang berkedok “The Marijuana Tax Act of 1937“, yang telah secara terencana dipersiapkan oleh konspirasi Anslinger dan kawan-kawan.

Dari sini jugalah nama besar Ganja/Cannabis/Hemp seolah dilupakan dan ditiadakan, untuk sebuah julukan baru penuh cela Marijuana.

Segala bentuk pemanfaatan tumbuhan ganja (secara utuh) yang dulu pernah sangat disarankan seolah tak pernah terjadi di bawah kungkungan julukan barunya, marijuana. Sampai detik ini.

Hari-Hari Terakhir Ganja Bergelar Legal

Peristiwa besar apa kiranya yang membuat jangka waktu selama itu seolah tak pernah terjadi? Sejak kapan pula ganja menyandang status hukum ilegal?

Bersumber dari buku “The Emperor Wears No Clothes” karya mendiang Jack Herer, tertulislah tulisan rangkum berikut ini:

Berawal dari konspirasi raksasa-raksasa industri Amerika di akhir abad 19, gejala intimidasi terhadap ganja mulai tercium ketika Dupont (salah satu raksasa industri saat itu), memonopoli industri bahan peledak berbahan “Hemp Hurds” dengan cara membeli dan mengkonsolidasikan beberapa perusahaan kecil yang sedang berkembang. Usaha ini mereka lakukan setelah menyadari potensi ganja dan pasarnya, bahkan dalam industri dinamit.

Hasilnya, Dupont pun berjaya di industri ini dan menjadi perusahaan terbesar yang memasok 40% stock amunisi kepada sekutu-sekutunya saat perang dunia pertama.

Hal ini juga lantas mengisi berita di Popular Mechanics ’38 yang menyatakan “Thousands of tons of hemp hurds are used every year by one large powder company for the manufacture of dynamite and TNT.”
Tidak berhenti di situ, pada akhir tahun 1920 Dupont melanjutkan konsolidasi ke arah pemerintah federal Amerika dan berhasil menguasai sebagian besar industri textile dalam negeri.

Berawal dari monopoli ini, para peneliti dan ahli kimia Dupont menemukan potensi kandungan selulosa ganja sesungguhnya jauh di atas pengetahuan umum sebelumnya.

Pada saat itu tidak ada yang lebih paham dari para peneliti Dupont, bahwa 77% bagian pohon ganja adalah sumber selulosa (bahan kertas, plastik, rayon) alami terbaik.

Tak heran jika pada pertengahan tahun 1930, ditemukannya teknologi mekanik baru pemisah serat ganja dan mesin pemisah selulosa dengan harga terjangkau oleh petani/industri kecil ganja membuat Dupont serta raksasa industri lainnya kebakaran jenggot.

Terlebih pada saat yang sama di tahun 1937, Dupont baru saja mematenkan proses produksi plastik berbahan minyak bumi dan batubara sebagai bisnis mereka. Juga industri sulfat kimia baru untuk memproses pembuatan kertas dari kayu hutan.

Kemajuan industri-industri kecil ganja ini sangat mungkin merugikan 80% bisnis kertas, plastik sintetis, dan minyak bumi raksasa-raksasa ini.

Bukan hanya Dupont yang merasakan pentingnya ganja dieliminasi dari lahan industri mereka, Andrew Mellon dari The Mellon Bank of Pittsburgh sebagai banker di belakang Dupont dan William Randolph Hearst dari Hearst Paper Manufacturing merasakan ketakutan yang sama.
Terlebih Randolph Hearst, yang sebenarnya menyadari ancaman dari ganja terhadap industri kertasnya lebih awal. Selain pabrik kertas dari kayu, Hearst, yang juga mengepalai perusahaan percetakan dan penerbit koran sudah melakukan intimidasi terhadap ganja sejak 1898.

Dimulai setelah ditemukannya 800.000 hektar ladang ganja di area hutan kayu miliknya di Meksiko. Nyaris 3 dekade setelahnya, Hearst menjadikan ganja sebagai kambing hitam di setiap halaman utama korannya.

Salah satu contohnya adalah, ketika Hearst mengklaim bahwa hampir seluruh kekerasan, perkosaan oleh kulit hitam terhadap kulit putih dilatarbelakangi oleh ganja.
Hasilnya, ratusan ribu kulit hitam dan orang-orang meksiko dipenjara karena isu ini.

Korannya jugalah yang mempopulerkan kata “Marijuana” sebagai kutukan terhadap ganja melalui pengulangan-pengulangan berjangka panjang di setiap halaman utamanya, sehingga berhasil menghapuskan kata “Hemp” dan nama ilmiah asli ganja “Cannabis“.

Berdasarkan ketakutan terhadap ancaman serupa inilah akhirnya diadakan pertemuan rahasia pertama oleh para “mandor” industri dan banker-bankernya tahun 1931 untuk menyatukan kekuatan melawan ganja, “The environmentally-sane natural source“. Pertemuan ini dihadiri oleh Dupont, Hearst, dan Andrew Mellon yang saat itu memiliki kuasa di pemerintahan federal (Secretary of The Treasury).

Hasil dari konsolidasi antara para raksasa ini adalah diangkatnya Harry J. Anslinger (keponakan ipar Andrew Mellon) sebagai kepala Federal Bureau of Narcotic and Dangerous Drug (FBNDD) yang pada saat itu mendadak dibentuk.

Semenjak saat itu sampai 1937, banyak pertemuan rahasia dilakukan terkait rancangan undang-undang untuk ganja, sampai akhirnya “Marijuana Tax Act” diresmikan pemerintah Amerika pada tanggal 2 Agustus 1937.

Dalam masa jabatannya ini (31 tahun), Anslinger sangat gencar menyebarkan propaganda buruk tentang ganja atas nama marijuana (Harry Anslinger’s Personal Gore Files).
Banyak pihak-pihak independent seperti ilmuan-ilmuan universitas membantah tudingan-tudingan buruk anslinger yang tidak beralasan.

Alhasil, undang-undang baru yang melarang segala penelitian tentang ganja (tanpa seijin pribadi Anslinger) dikeluarkan sebagai reaksi sangkala-sangkalan itu.

Semakin dalam terkubur sejak saat itu nama Cannabis atau Hemp dibawah julukan barunya yang penuh cemar, Marijuana.

Dan terus berlanjut hingga kini sandangan hukum ganja semenjak diberlakukannya Marijuana Tax Act 1937.

Begitulah kiranya rangkuman hari-hari terakhir ganja bergelar LEGAL… lalu menjadi ILLEGAL.

Untuk bacaan selengkapnya, silakan dibaca di The Emperor Wears No Clothes chapter ke-4, halaman 25-39 dan juga mengenai Marijuana Tax Act: http://en.wikipedia.org/wiki/Marihuana_Tax_Act_of_1937

* Awalnya, Marijuana Tax Act ini tidak sepenuhnya mengilegalkan, dengan mengenakan pajak U$.1 per ounce, dan U$.100 per ounce jika pemiliknya tidak teregistrasi. Faktanya, banyak penyelewengan hukum yang seringkali menyebabkan hukuman penjara sampai 5 tahun atau denda yang berlipat-lipat hingga U$.2000. Lalu apa bedanya dengan sekarang?

Legalisasi Ganja Bisa Untuk Eksperimen Kualitas Kesehatan

Selama ini di berbagai negara terjadi perdebatan mengenai legalisasi ganja. Banyak kekhawatiran tentang efek negatif ganja, tapi di sisi lain banyak yang menyatakan ganja baik bagi kesehatan.

Para ahli mengatakan, ada beberapa dampak negatif saat ganja digunakan untuk kesenangan atau non-medis. Namun kekhawatiran itu dianggap tak memiliki cukup bukti.

Terlepas dari segala macam perdebatan, para ahli menilai legalisasi ganja di Colorado dan Washington di Amerika Serikat bisa digunakan untuk eksperimen mengenai kualitas kesehatan masyarakat. Dengan demikian para peneliti bisa mengumpulkan informasi akan kerugian atau manfaat dari diberlakukannya legalisasi ganja di AS.
Sejumlah pembeli memadati meja konter untuk membeli berbagai macam produk berbahan ganja yang dijual di toko penjulan ganja legal Medicine Man di Denver, Colorado (1/1/14). (AP Photo/Brennan Linsley)

Pada bulan Januari 2014, undang-undang legalisasi ganja itu sudah disahkan di dua negara bagian tersebut. Dengan aturan ini, orang dewasa berusia di atas 21 tahun bisa memiliki dan membeli ganja seberat 1 ons untuk kesenangan atau fungsi non-medis.

Sebenarnya, hingga sekarang belum banyak penelitian dari topik kerugian atau manfaat dari legalisasi ganja. Bahkan ini berlaku juga di negara-negara yang sudah melegalkan ganja.

“Ini adalah pertanyaan empiris, dan akhirnya kita akan memiliki data untuk menilai itu,” kata Rosalie Liccardo Pacula, Wakil Direktur Research Center Drug Policy, di RAND Corporation, dilansir dari Livescience.
Menurut Pacula, legalisasi ganja berpotensi memiliki dampak negatif. Ganja disebut Pacula bisa merusak memori, koordinasi, dan persepsi, dan dapat mempengaruhi kemampuan mengemudi. Ini tentu membahayakan keselamatan publik.

Beberapa studi juga telah mengungkap, mengemudi setelah beberapa jam menggunakan ganja berpotensi menyebabkan kecelakaan hingga dua kali lipat.

Penelitian ini dilakukan oleh Guosha Li, epidemiologist di Columbia University Mailman School of Public Health, yang melakukan penelitian penggunaan ganja saat mengemudi.

Penggunaan ganja dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko kerusakan mental. Baru-baru ini ada studi yang menemukan hubungan antara penggunaan ganja di masa remaja, akan berdampak terhadap IQ yang rendah di masa depan.

Meski begitu, banyak juga ilmuwan yang mengatakan ganja memiliki dampak positif bagi kesehatan. Itu sebabnya ganja masih bisa digunakan untuk kepentingan medis di sejumlah negara atau negara bagian yang belum lakukan legalisasi ganja.

Misalnya saja, mengutip laman Bussiness Insider, psikiater Tod H Mikuriya telah berikan rekomendasi kepada pasiennya untuk terapi menggunakan ganja sejak tahun 1960an.

Menurut Mikuriya, lebih dari 200 penyakit bisa diatasi dengan terapi ganja. Di antaranya dalah insomnia, gagap, dan premenstrual syndrome (PMS) bahkan penyakit kanker.
Bahkan National Cancer Institute sependapat dengan Mikuriya. Lembaga itu mengatakan ganja bisa digunakan untuk mengatasi efek samping dari kemoterapi, mencegah nausea (mual) dan muntah, meningkatkan nafsu makan, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan kualitas tidur.

Bussiness Insider pun menyebut manfaat lain ganja bagi kesehatan. Di antaranya adalah mencegah kebutaan akibat glukoma, mengendalikan penyakit epilepsi, dan mengurangi rasa cemas berlebihan. Adapun zat kimia cannabidiol di ganja dianggap bisa mencegah penyebaran kanker, dan zat aktif THC bisa mengurangi dampak penyakit Alzheimer.

Variabel Lain

Menurut Pacula berbagai studi yang mempelajari efek negatif dari ganja itu dilakukan pada populasi tertentu. Obyek penelitian seringkali merupakan orang-orang yang cenderung menggunakan obat-obat terlarang, dan bukan populasi secara keseluruhan.

Ia menambahkan, efek yang dihasilkan pada kesehatan masyarakat tergantung seberapa sering menggunakan ganja.
Faktor lain yang patut dipertimbangkan untuk jadi variabel penelitian adalah penggunaan yang dilakukan secara bersamaan dengan alkohol (yang berpotensi meningkatkan kerusakan), potensi obat-obatan terlarang lain, dan jumlah remaja yang menggunakan.

Pacula pun beralasan, sangat masuk akal jika UU legalisasi ganja akan meningkatkan penggunaan ganja oleh remaja, meski belum jelas seberapa besar peningkatan itu.

Legalisasi ganja juga dapat memiliki dampak jatuhnya harga obat-obatan terlarang. Ini tentu berpotensi meningkatkan penggunaan obat-obatan terlarang, terutama di kalangan remaja.

Variabel lain yang belum diketahui adalah potensi obat-obatan terlarang lain untuk digunakan dalam fungsi non-medis. Potensi ini dapat bermacam-macam, dan potensi yang paling berbahaya adalah kerusakan mental.

“Ketika kita memiliki banyak pengetahuan tentang itu, maka akan bisa diketahui apakah tingkat kesehatan masyarakat itu akan bertambah baik atau makin berkurang,” ucap Pacula. (adi/vivanews)

Ganja Untuk Pengobatan Telah Legal di 18 Negara Bagian di Amerika Serikat, Termasuk Washington DC dan Colorado

Kepemilikan mariyuana akan dilegalkan di negara bagian Washington, satu bulan setelah para pemilih mengambil opsi tersebut.
Mulai Kamis (6/12/2012) tengah malam waktu Pantai Barat AS (15.00 WIB), siapa saja yang berusia 21 tahun ke atas dapat membawa hingga 28,4 gram kanabis, meskipun menghisapnya di muka umum tetap merupakan pelanggaran kejahatan.

Ganja sudah dinyatakan legal untuk keperluan medis di negara itu sejak 1998.

Washington dan Colorado memilih untuk melegalkan mariyuana, meski hukum federal AS tetap menyatakan hal itu sebagai kejahatan. Namun, tidak ada tempat untuk membeli mariyuana di negara bagian itu selama satu tahun.

Hingga saat ini juga masih belum jelas bagaimana aparat akan menangani liberalisasi UU Narkotika di Washington dan Colorado.
Meski hukum AS secara keseluruhan masih melarang penggunaan ganja, banyak yang menggelar pesta ganja.

Ratusan orang berkumpul pada tengah malam di Space Needle, menara futuristik yang mendominasi langit malam. Mereka merayakan ‘kemerdekaan’ baru ini.

“Akhirnya anda bisa merokok ganja tanpa berpikir hal tersebut tindakan kriminal. Tak ada bedanya seperti minum bir, tak lagi dikatakan berbahaya,” ujar seorang perokok ganja, Calvin Lee.

Hal ini menyusul referendum pada 6 November lalu untuk melegalkan konsumsi ganja pribadi untuk tujuan rekreasi.

Federal

Setiap keputusan untuk menyerang negara bagian dengan hukum narkotika liberal dapat mempengaruhi rencana Washington untuk menaikkan pendapatan pajak dari pasar mariyuana yang berlisensi dan terkontrol. “Kami berada di lautan bebas,” kata Jaksa Wilayah Seattle City Pete Holmes dalam sebuah konferensi pers, Rabu.
“Kami berjuang dengan larangan ini selama satu abad,” kata Holmes menurut Seattle Post-Intelligencer.

“Akan butuh waktu untuk menggantikan sistem yang teratur dan berlisensi.”

Pendukung undang-undang Washington bersikeras mereka tidak menyarankan atau mensyaratkan siapa pun untuk melanggar hukum federal.

Namun, seorang jaksa federal regional di negara bagian itu, Jenny Durkan, mengatakan pada Post-Intelligencer bahwa “menanam, menjual, atau memiliki mariyuana dalam jumlah berapa pun tetap ilegal di bawah hukum federal,” tanpa mempedulikan hukum negara bagian apa yang diterapkan di Washington.

Mariyuana masih berada di kategori sama dengan kokain, heroin, dan methamphetamine, kata Durkan, yang menambahkan bahwa hanya Kongres yang dapat mengubah peruntukannya. (BBC Indonesia / Egidius Patnistik / Kompas)

Pemerintah Uruguay Mulai Jualan Ganja

Para penghisap ganja di Uruguay sekarang tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi menghisap ganja. Pasalnya, pemerintah negara itu telah melegalkan ganja dan bahkan memproduksinya untuk dikonsumsi rakyatnya pada bulan Oktober 2012 lalu.

Diberitakan Daily Mail, pemerintah Uruguay akan memasok ganja untuk para pengguna dan hal ini diatur dalam hukum negara tersebut.
Dalam peraturan baru, ganja akan diatur peredarannya dan dibatasi penggunaannya oleh pemerintah. Untuk setiap paketnya seberat 40 gram, atau bisa dibuat 20 batang rokok ganja, Uruguay mematok harga sekitar Rp.332 ribu.

Para pembeli hanya boleh membeli satu paket setiap bulannya. Mereka akan ditandai dengan kartu barcode yang akan diserahkan setiap membeli. Jadi setiap bulan, rakyat boleh membeli maksimal 20 batang ganja.

Untuk memenuhi permintaan para pemadat, pemerintahan Presiden Uruguay Jose Mujica juga berencana menggarap perkebunan ganja seluas 150 hektar. Selain itu, pemerintah juga akan menerapkan standar kualitas agar ganja yang dijual tidak murahan. (vivanews / Daily Mail / dan berbagai sumber luar dan dalam negeri).

Baca Juga : Ketika MDMA Akan Anda Dapatkan Melalui Resep
https://indocropcircles.wordpress.com/2014/01/03/ganja-sebagai-obat/

5 Dari Ratusan Penyakit Yang Bisa Diobati Dengan Ganja


5 Dari Ratusan Penyakit Yang Bisa Diobati Dengan Ganja

Selama ini ganja dianggap sebagai salah satu bentuk obat-obatan yang terlarang dan hanya memberikan efek buruk saja terhadap tubuh. Namun baru-baru ini nama ganja atau mariyuana tengah naik daun dalam bidang kesehatan.
Peneliti menemukan banyak efek kesehatan yang bisa diberikan ganja untuk membantu mengobati berbagai penyakit.Semakin hari, semakin banyak negara yang melegalkan penggunaan ganja untuk perawatan penyakit tertentu.
Hal ini bukan isapan jempol belaka, karena peneliti telah membuktikan penggunaan ganja dalam perawatan beberapa penyakit.Berikut adalah beberapa penyakit yang bisa diobati menggunakan ganja.
Banyak peneliti yang sudah menggunakan ganja dalam perawatan beberapa penyakit serius ini, seperti dilansir oleh Daily Health Post (14/04).

1.Penyakit otak

Salah satu penyakit yang menggunakan ganja dalam perawatannya adalah penyakit yang berkaitan dengan otak. Sebuah penelitian menemukan bahwa zat THC yang terdapat dalam ganja bisa melindungi otak dari kematian saraf otak yang agresif. Hal ini ditemukan peneliti setelah melakukan penelitian terhadap tikus.

Hasil ini menunjukkan bahwa ganja juga bisa digunakan dalam perawatan penyakit otak seperti Alzheimer, Parkinson, dan lainnya yang berkaitan dengan kerusakan sel otak dan kerusakan kemampuan kognitif seseorang. Selain itu, cannabinoids yang terdapat dalam THC juga bisa mengurangi risiko menurunnya kemampuan kognitif seseorang ketika mereka semakin menua.

2.Kanker payudara

Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling mematikan pada wanita setelah kanker paru-paru. Sebuah penelitian mengungkap bahwa cannabidiol (CBD) pada ganja diketahui bisa mengurangi penyebaran sel kanker payudara dan mengecilkan kanker tersebut. Hasil ini diterbitkan dalam jurnal Breast Cancer Research and Treatment pada tahun 2001.

Peneliti tidak membuat pasien merokok ganja, namun mereka menggunakan zat yang tak beracun dalam ganja untuk mencegah penyebaran sel kanker payudara. Meski begitu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek ganja secara keseluruhan terhadap perawatan kanker payudara.

3.Kanker paru-paru

Dengan semakin banyaknya perokok, kanker paru-paru diperkirakan akan menduduki peringkat pertama sebagai pembunuh wanita dan kedua setelah kanker pankreas bagi pria. Namun penelitian yang berkaitan dengan kanker mengungkap bahwa zat THC dalam ganja bisa membantu merawat kanker paru-paru.

Hasil yang diterbitkan dalam jurnal Oncogene pada tahun 208 ini mengungkap bahwa THC bisa mencegah penyebaran kanker paru-paru jenis tertentu. Meski begitu, hasil ini masih ditemukan peneliti setelah melakukan penelitian pada hewan. Masih belum diketahui aplikasi sesungguhnya pada manusia. Namun peneliti berkeyakinan bahwa efek yang sama bisa dibuktikan pada manusia.

4.Kanker prostat

Ganja juga diperkirakan bisa menjadi obat bagi kanker prostat. Sebuah penelitian menunjukkan kemampuan annadamine (ANA) pada ganja yang bisa mencegah pertumbuhan kanker prostat. Selain itu, ANA juga merupakan reseptor cannabinoid.

Hasil penelitian ini membuat peneliti semakin yakin bahwa ganja memiliki zat yang bisa digunakan dalam perawatan kanker. Meski begitu masih dilakukan lebih banyak penelitian terhadap ganja yang bisa digunakan untuk mencegah penyebaran dan mematikan sel kanker prostat.

5.Kanker pankreas

Kanker pankreas disebut sebagai jenis kanker yang paling mematikan pada pria. Kanker jenis ini bisa menyebar dengan sangat cepat dan seringkali tak diketahui keberadaannya. Selain itu, sangat sedikit perawatan efektif yang bisa digunakan pada kanker prostat. Meski begitu, sebuah artikel memberikan harapan baru terhadap perawatan kanker pankreas.

Sebuah penelitian internasional menemukan efek cannabinoid yang terdapat dalam ganja terhadap kanker pankreas. Mereka menemukan bahwa cannabinoid bisa mengurangi besar tumor pankreas. Penelitian ini memang tak menunjukkan secara langsung bahwa ganja bisa digunakan untuk menyembuhkan kanker pankreas, namun peneliti berkeyakinan bahwa dalam ganja terdapat zat yang bisa digunakan untuk perawatan kanker pankreas yang lebih efektif.

Baca Juga : Pohon Ilegal Di Indonesia pohon ganja adalah tanaman ilegal yang dimasukan kegolongan narkotik oleh para ahli pembuat undang2 narkoba dineggara ini

Penelitian Buktikan CBD Percepat Penyembuhan Tulang Patah



Penelitian Buktikan CBD Percepat Penyembuhan Tulang Patah

Penelitian terbaru yang dilakukan di Israel, menyebut bahwa mariyuana atau ganja dapat membantu proses penyembuhan tulang patah lebih cepat dari biasanya.
Para peneliti di Tel Aviv University menemukan bahwa tikus dengan patah tulang sembuh lebih cepat bila diberikan komponen ganja non-psikotik, cannabidiol atau CBD.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Bone dan Penelitian Mineral menyebutkan, bahwa tulang tidak hanya sembuh lebih cepat, tetapi juga lebih kuat dan lebih tahan terhadap fraktur berulang, yang berarti tulang diobati dengan ganja jauh lebih kecil kemungkinannya untuk patah lagi.
Para ilmuwan di balik penelitian percaya bahwa hasil ini menunjukan adanya hubungan antara reseptor cannabinoid dalam tubuh manusia dan stimulasi pertumbuhan tulang.

Baca : The ‘Gateway Drug’ Is Alcohol, Not Marijuana

"Kami menemukan CBD sendiri menjadi cukup efektif dalam meningkatkan penyembuhan patah tulang. Penelitian lain menunjukkan CBD menjadi agen aman, yang membawa kita untuk percaya bahwa kita harus terus melanjutkan penelitian dalam uji klinis untuk menilai kegunaannya dalam meningkatkan penyembuhan patah tulang manusia," kata Dr Yankel Gabet dari Tel Aviv Bone Research Laboratory.
Sejumlah penelitian telah menemukan keuntungan medis ganja. Dalam sebuah studi tahun 2003 oleh Virginia Commonwealth University, peneliti mengatakan bahwa ganja dapat digunakan untuk membantu mencegah serangan epilepsi. Mariyuana juga telah dikaitkan dengan pengobatan yang efektif Multiple Sclerosis dan Alzheimer.
https://www.facebook.com/Halusinogen

Kebenaran tentang ganja kini mulai menyebar di seluruh dunia

Kebenaran tentang ganja kini mulai menyebar di seluruh dunia

Sangat menarik untuk diketahui bahwa Dupont Chemical mendanai upaya anti ganja.
Hal ini karena mereka memiliki hak paten pada serat sintetis dan mereka memiliki mesin baru pengolah serat rami yang akan menempatkan mereka keluar dari bisnis jika rami harus digunakan untuk pakaian.
Dupont juga menjual banyak bahan kimia untuk produsen pulp kayu ... jadi kita terus menebang hutan ... saat Hemp bisa menyelamatkan jutaan pohon dan akan digunakan sebagai bahan bakar bio alternatif dan AS bisa dengan mudah menanam rami untuk menghilangkan kebutuhan minyak ... jadi perusahaan minyak dan farmasi tidak ingin ganja legal karena mereka tidak bisa mematenkannya. Mereka lebih suka tetap menjual untuk anda obat-obatan mereka dengan keuntungan yang sangat besar. Dengan menjaganya agar ganja tetap ilegal pengacara, hakim, jaksa, polisi, DEA dll ...bisa mendapatkan uang yang sangat besar.
Anda hanya bisa mendapatkan tinggi dari ganja bunga betina - tak seorang pun pernah meninggal karena merokok ganja.
Tentu saja perusahaan alkohol dan tembakau akan lebih memilih untuk menjaga monopoli mereka juga.
Jadi kita berhadapan dengan Perusahaan2 besar yang tidak menginginkan ganja dilegalkan.
Namun jika dilegalkan, kita akan memecahkan banyak masalah dan memiliki ekonomi rami multi miliar dolar karena dapat digunakan untuk 1001 jenis produk

Baca : On the UN's Global Anti-Drug Day, Civil Society Fights Back
https://www.facebook.com/Halusinogen

THCV: A Marijuana Cannabinoid for Weight Loss and Diabetes Prevention?

THCV: A Marijuana Cannabinoid for Weight Loss and Diabetes Prevention?

The cannabis sativa plant, marijuana, produces dozens of cannabinoids. The THC cannabinoid that elicits psychoactivity, and numerous medical benefits, is but one of over 60 phyto (plant-based) cannabinoids found in cannabis. Cannabidiol or CBD, is a second, now under intense study for its anti-inflammatory and other health properties. Another of these phytocannabinoids is tetrahydrocannabivarin or THCV. Cannabis strains favoring this cannabinoid might serve as tools for weight loss and preventing diabetes.
Medical research on cannabinoids has flourished in recent years and most research points to health positive effects of medical cannabis for a wide range of conditions. Cannabis has been found to be neuroprotective, anti-pain, antioxidant, antiseptic, anti-inflammatory, anti-tumor as well as cardioprotective. One area, though, where research is less positive is in the metabolic effects of cannabinoid receptor activation. Activation of the endocannabinoid regulatory system, an effect of THC and human endogenous cannabinoids anandamide and 2-AG, seemed to correlate with some health-negative metabolic conditions. Conversely, blockage of this activation with synthetic cannabinoid antagonists (e.g. rimonabant) correlated with health positive cardio-metabolic changes. As listed by the European RIO study, some positive changes induced by blocking CB1 receptors include positive changes in body weight, waist circumference, HDL cholesterol, triglycerides, adiponectin, fasting insulin and insulin resistance.
Because of these effects on the endocannabinoid system, it has long been assumed that cannabis consumption would tend to cause weight gain. These metabolic effects and enhanced eating because of amplified taste, i.e. “munchie effects” would theoretically make marijuana users ravenous and fat. To the surprise of many, several studies have now found that cannabis users are actually less fat than their abstaining counterparts. As reported here, marijuana users tend to be less obese and less diabetic than non-users. Their waists were smaller. These real life observations seem to contradict the supposed munchie effect and predicted effects of CB1 activation. Such health positive indication by cannabis users may even be amplified with development of THCV-heavy cannabis weight loss products e.g. edibles for appetite suppression.

Baca Juga : STUDI: Ganja Sebagai Obat Untuk Mengatasi Kecanduan Kokain

For some people eating does often follow use of THC-heavy marijuana. Indeed, important medical uses of cannabis include treatment of the wasting syndrome and lack of appetite from chemotherapy. But by no means does everyone using cannabis each time become ravenous. Depending on the person, the setting and the cannabis, consuming cannabis is often a prelude to cardiovascular exercise, not gluttonous indolence. As much as taste enjoyment is enhanced by cannabis for some, for others (or for the same people at other times.) the sensory enjoyment of exercise is enhanced. With cannabis, activities like running can hurt less and feels better, even ecstatic. Might a higher THCV-content cannabis both dampen appetite and create an energetic cannabis experience encouraging exercise?
For a short time in 2005 and 2006, it looked this CB1 receptor antagonist, the synthetic cannabinoid rimonabant, might be a powerful anti-obesity drug. Problems arose for this promising weight loss and metabolic drug, though, from its blockage of the endocannabinoid system. Ananadamide and THC are blissful, because they activate this system. Blockage of the system, it seems, is anti-blissful, with feelings of anxiety and depression common. Also worrisome was blockage of the positive health effects of medical cannabis, e.g. glaucoma reduction and pain relief. For example, cannabis is an anti-nausea drug offering immense relief to chemotherapy patients. And indeed, nausea was another of the symptoms bothering those taking this synthetic “anti-marijuana.” Depression and nausea are probably not part of an effective weigh loss program.
After approval in Europe and other countries, rimonabant was rejected by the FDA. It has since lost favor in Europe. An obese world lost a potentially useful weight control product. Could there be other options? As it turns out one of the phyto-cannabinoids from the cannabis plants, THCV, may have potential. Although its interactions with THC, other cannabinoids and the cannabinoid receptor system are complex, recent research found that THCV is a CB1 and CB2 receptor antagonist. Seemingly, this would make for “downer cannabis,” blocking the CB1 receptors that THC activate, but that does not seem to be the case. It is possible THCV intensive cannabis might offer the appetite reduction and and positive cardiometabolic effects of Rimonabant without the negatives of the synthetic drug. This is especially true when the THCV is mixed, with other cannabinoids, as found in cannabis. A cannabis with high THCV and low or moderate THC and CBD might be ideal.
Seminal cannabis researcher and discoverer of THC, Raphael Mechoulam, in British Journal of Pharmacology in 2005, discussed the apparent unique properties and posed several research questions. He notes, as has Scottish researcher Roger G. Pertwee, that THCV content can be very high in hashish from Pakistan. Despite these high levels of the supposed CB1 receptor antagonist THCV, Pakistani hashish has no apparent “downer” aspect depressing the user. Perhaps this is due to the presence of the other 60 cannabinoids.
THCV’s appetite-reducing and fat loss potential await studies, as do new cannabis cultivars enhancing this cannabinoid. Except, of course, no studies on the medical potential of cannabis are allowed in the USA by the DEA. Americans, so in need of useful weight loss products, will have to wait until the research is done in places like Israel, Spain and Portugal.

Selasa, 22 September 2015

Cannabinoid Biosintesis CBG THC CBD dan CBC


Cannabinoid Biosintesis CBG THC CBD dan CBC

Selama beberapa dekade petani telah mengawinkan strain terbaik dari ganja yang bisa mereka temukan, logis, untuk menghasilkan regangan potensi yang tinggi lainnya. Potensi psikoaktif yang dicari adalah produksi cannabinoids tertentu, terutama THC (atau Δ9-THC).
Baru-baru ini telah terjadi lonjakan minat yang cukup nrsar untuk berbagai cannabinoids alami, karena nilai obat penting dari beberapa cannabinoids lebih berlimpah diproduksi oleh Cannabis sativa yang disingkat sebagai CBGA, CBG, Δ9-THCA, CBDA, CBD, THCV, Δ8-THC, CBN, CBCA, dan CBC.
Di mana sup alfabet ini datang dari THC dan semua sisa cannabinoids yang diproduksi di kelenjar yang disebut trikoma.
Kelenjar itu sendiri adalah organ yang terdiri dari tipe khusus dari sel yang mengeluarkan beberapa jenis bahan kimia biologis yang dihasilkan, misalnya, hormon atau air liur. Sel-sel dari trikoma memproduksi dan mengeluarkan berbagai molekul cannabinoid.
Cannabinoids diproduksi dalam sel trikoma melalui biosintesis, di mana enzim mengkatalisis serangkaian reaksi kimia untuk menghasilkan molekul kompleks dari yang sederhana molekul kecil.
Biosintesis adalah proses yang benar-benar menakjubkan yang dapat diringkas dalam beberapa langkah sederhana.
Untuk biosintesis cannabinoid tiga langkah dasar yang mengikat, prenilasi, andcyclization.
Pada tingkat molekuler yang terjadi adalah: 1) makromolekul nano yang disebut enzim harfiah ambil (mengikat) untuk satu atau dua molekul kecil (substrat), 2) melampirkan substrat satu sama lain (prenilasi, konversi kimia katalitik dari substrat), dan kemudian 3) lulus molekul kecil (berubah substrat) turun jalur perakitan untuk enzim lain yang menghasilkan perubahan berurutan untuk molekul kecil (siklisasi).
Saya pikir enzim sebagai nanomachines biologis yang menggunakan energi kimia daripada energi mekanik untuk membangun struktur. Enzim yang benar-benar menarik dan telah menginspirasi banyak penelitian di nanoteknologi, biologi, dan bidang lainnya.
Rincian mengenai biosintesis dari berbagai cannabinoids yang terkenal akan menjelaskan bagian-bagian dari sini dalam istilah awam.
Angka-angka berikut menggambarkan beberapa struktur molekul yang terlibat dalam biosintesis cannabinoid.
Dalam angka-angka ini, setiap baris adalah ikatan antara atom.
Ketika dua garis bertemu pada suatu titik dan belum ada surat tertulis atom adalah dengan karbon default. Oksigen, dan fosfor, atom secara eksplisit ditunjukkan. Atom hidrogen hanya diambil ketika terikat oksigen atau pada cincin aromatik, mereka tidak ditarik pada rantai alkil. Panah yang melengkung yang mengarah dari satu atom ke yang lain menunjukkan bahwa ikatan baru terbentuk antara atom-atom selama reaksi, mereka juga menunjukkan gerakan atau pertukaran elektron yang membentuk ikatan. Tidak semua langkah yang ditampilkan, sehingga ada beberapa obligasi yang melanggar dan produk sampingan dibentuk yang tidak ditampilkan.
Prekursor untuk semua cannabinoids alami, geranyl pirofosfat dan asam olivetolic, diproduksi sendiri oleh serangkaian kompleks reaksi biosintesis saya tidak akan menutupi di sini. Geranyl pirofosfat dan asam olivetolic menggabungkan (obligasi satu sama lain) dengan bantuan enzim dalam kategori prenyltransferase dikenal sebagai GOT, sehingga menciptakan cannabinoid pertama, CBGA.
The CBGA mengandung gugus asam karboksilat dengan rumus molekul COOH, dan karena adanya kelompok asam, "A" ditempatkan pada akhir CBGA.
Hal ini berlaku untuk sisa cannabinoids yang singkatan berakhir dengan huruf A (misalnya THCA, CBDA, dll). Kelompok asam karboksilat spontan putus dari struktur cannabinoid sebagai gas CO2 ketika dipanaskan, dan dengan demikian CBGA menjadi CBG ketika dipanaskan (dan THCA -> THC, CBDA -> CBD dll). Hal ini dianggap sebagai proses degradasi karena tidak memerlukan enzim dan terjadi setelah tanaman dipanen. Jenis CBG dari cannabinoids memiliki satu cincin dalam struktur molekul, itu adalah cincin aromatik yang datang dari asam olivetolic

Baca Juga : Perang Narkoba Adalah Ide Orang Bodoh-Kita diberitahu bahwa "Perang terhadap Narkoba" sedang dilancarkan, atas nama kami, oleh pemerintah dan birokrasi bersenjata,

Jadi CBGA adalah cannabinoid pertama yang terbentuk dari reaksi biosintesis, yang bergabung dengan dua potongan kecil bersama-sama; juga merupakan prekursor untuk semua cannabinoids alami lainnya. Berikutnya, CBGA adalah disiklisasi ke THCA, CBDA, atau CBCA melalui enzim yang dikenal sebagai Tcha synthase, CBDA synthase, dan CBCA synthase.
Kehadiran dan relatif jumlah enzim spesifik apa yang mengontrol cannabinoid adalah produk utama dari masing-masing strain tertentu, dan setiap sel tertentu. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jenis cannabinoids CBG hanya memiliki satu cincin dalam struktur mereka. Setelah reaksi siklisasi cannabinoids THCA, CBDA, dan CBCA memiliki cincin yang lebih dalam struktur mereka.
Untuk THCA dua cincin baru dibentuk oleh penciptaan dua ikatan kovalen baru, ikatan karbon-oksigen dan ikatan karbon-karbon. The CBDA enzim sintase mengkatalisis reaksi yang menciptakan satu karbon-karbon baru (CC) obligasi pada posisi yang sama bahwa ikatan CC terbentuk di THCA, tapi tanpa ikatan CO baru, sehingga membentuk CBDA. Pembentukan CBCA terjadi dengan pembentukan satu ikatan karbon-oksigen pada posisi yang berbeda dari molekul dari ikatan karbon-oksigen terbentuk di THCA. Senyawa dengan dua cincin menyatu satu sama lain seperti di CBCA dan CBC dikatakan bisiklik, tetapi Anda tidak bisa naik mereka, mereka terlalu kecil. Bagaimanapun, itu bagaimana THCA, CBDA, dan CBCA dilakukan melalui biosintesis.
Ketika tunas khas dikeringkan dengan baik tanpa terlalu banyak sinar matahari langsung atau memanaskan produk utama akan menjadi bentuk asam dari cannabinoid (THCA, CBDA, CBCA atau CBGA). Ketika merokok atau dipanggang dalam edibles molekul mengalami dekarboksilasi (bentuk dekarboksilasi mungkin dihasilkan untuk sebagian kecil biosynthetically dan sementara pengeringan, tetapi bentuk asam adalah produk utama). Produk dekarboksilasi adalah Δ9-THC, CBD, dan CBC.
Ingat bahwa cannabinoid pertama disebutkan di sini juga decarboxylates untuk pergi dari CBGA ke CBG.
Setidaknya ada 100 cannabinoids alami dilaporkan dalam literatur ilmiah. Pada tahun 2005, profesor MA ElSohly dan D. Slade dari University of Mississippi menerbitkan tinjauan rinci dari 70 cannabinoids dikenal pada waktu itu. Dalam 9 tahun terakhir ElSohly, Slade, dan rekan kerja mengisolasi dan dijelaskan sekitar 28 derivatif cannabinoid baru, dan beberapa telah dilaporkan oleh kelompok di Italia.
Sebagian besar baru, cannabinoids eksotis diproduksi dalam jumlah jejak, yang berarti bahwa para ilmuwan mulai dengan ratusan gram ganja dan ekstrak hanya keluar beberapa miligram beberapa cannabinoid derivatif baru. Ada lebih sintetis cannabinoids untuk menambah daftar, biasanya dijual sebagai "bumbu". Mungkin karena kriminalisasi ganja, telah terjadi lonjakan dalam sintesis kimia cannabinoids alami dalam upaya untuk meniru tinggi tetapi memungkinkan pengguna untuk lulus tes obat untuk bekerja, olahraga, atau apa pun. Jadi karena sekarang Anda dapat menghargai, ada lebih banyak cannabinoids maka senyawa asing, THC. Apa yang lebih menarik, efek obat senyawa ini dalam isolasi dan dalam berbagai kombinasi dan proporsi hanya sekarang mulai dipelajari dan dihargai sepenuhnya.
http://www.weedtv.com/cannabinoid-biosynthesis-part-1-cbg-thc-cbd-and-cbc/

Pemerintah yang telah memutar balikan fakta



Pemerintah yang telah memutar balikan fakta

Jadi tugas pemerintah juga yang harus meluruskan nya dan mengakui kesalahannya juga meminta maaf jika selama ini telah memutar balikan fakta.
--------------------------
Otoritas Standar Makanan Australia dan Selandia Baru telah menyatakan bahwa ganja aman untuk dicampurkan ke dalam makanan.
Manfaat Mengejutkan dari Biji Hemp
Apa itu hemp? Sebagian besar dari kita mungkin akan menyamakan tanaman hemp dengan tanaman ganja. Mengapa demikian, karena hemp memang berasal dari genus cannabis. Akan tetapi, hemp seharusnya berbeda dengan tanaman ganja. Namun, tetap saja di negara kita semua jenis tanaman yang berasal dari tanaman ganja ini dilarang keras karena dianggap sebagai tanaman narkotika.
Untuk itu, kemungkinan informasi penting tentang manfaat dari biji hemp ini tidak banyak yang mengetahuinya.
Perbedaan yang jelas antara hemp dan ganja itu terdapat pada kadar THC yang dikandungnya. Hemp memiliki kadar THC yang rendah jika dibandingkan dengan ganja. Sehingga zat kimia THC pada hemp yang bisa membuat tinggi ini memiliki efek yang rendah, berbeda dengan ganja. Hal ini berdasarkan pada hasil tes narkoba yang sudah dilakukan oleh para peneliti yang membandingkan kedua jenis tanaman tersebut.

Manfaat Mengejutkan dari Biji Hemp
Akan tetapi, tetap saja pandangan orang-orang sudah tertutupi oleh bayang-bayang ganja. Sehingga orang-orang tidak menyadari ada manfaat kesehatan yang mengejutkan pada biji hemp.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang penulis buku “The Plant Powered Diet” yang bernama Sharon Palmer mengatakan bahwa biji hemp dapat memberikan banyak manfaat kesehatan bagi kita, sebab dalam biji hemp mengandung Omega-6 dan Omega-3, serta asam lemak esensial yang berguna untuk kesehatan jantung. Juga berkaitan erat dalam pencegahan peradangan (anti inflamasi). Biji dapat dikonsumsi bersama-sama dengan makanan lain, seperti salad, makanan pencuci mulut, sereal, yogurt, dan roti. Biji hemp juga merupakan bahan dasar untuk membuat mentega, bubuk protein, susu, dan sabun.
Sayangnya, seperti yang sudah dijelaskan dalam undang-undang narkotika di negara kita, tanaman ini tetap dilarang baik diproduksi untuk obat kesehatan maupun dalam bentuk apapun.
Padahal jika melirik dari sisi kesehatan, biji hemp mengandung banyak manfaat, dan merupakan sumber protein nabati lengkap nomor kedua setelah kedelai.
Manfaat Mengejutkan dari Biji Hemp
Untuk Anda yang belum tahu apa saja manfaat kesehatan yang terkandung dalam biji hemp, berikut 5 manfaat diantaranya:
Sebagai sumber protein dan serat, sehingga berguna untuk memperlambat pencernaan, yang mencegah lonjakan gula darah dan karena itu biji hemp dapat menopang energi tubuh Anda.
Ketika ditaburkan di sereal atau buah saat sarapan, protein dan seratnya juga membantu membuat Anda kenyang, yang nantinya akan mencegah Anda dari ngemil dan membuat diet Anda berjalan dengan baik.
Asam lemak Omega-6 yang terkandung didalamnya dapat merangsang kulit dan pertumbuhan rambut, menjaga kesehatan tulang, mengatur metabolisme, dan membantu fungsi otak.

Baca Juga : Cannabis =di beberapa negara termasuk Indonesia dimasukkan ke dalam narkotika golongan teratas yang secara hukum dianggap berbahaya

Asam lemak Omega-3 yang terkandung didalamnya dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, menurunkan tekanan darah, dan bahkan mungkin mencegah penyakit Alzheimer. Biji hemp adalah salah satu dari beberapa Omega-3 yang ditemukan dalam sumber tumbuhan.
Asam amino esensial yang terkandung pada biji hemp dapat meningkatkan kontrol otot, fungsi mental, dan pemeliharaan sel tubuh yang normal, jaringan, otot tubuh dan organ lainnya.
Terlepas dari semua stereotipe buruk yang sudah bersarang di masyarakat, biji hemp merupakan sumber manfaat kesehatan yang sudah terabaikan. Sehingga untuk membuatnya dikenal secara baik pada orang-orang sangatlah sulit. Setidaknya, dengan adanya informasi ini, Anda jadi lebih tahu, bahwa hemp dengan ganja itu sangat berbeda.
https://www.facebook.com/pages/Halusinogen/